IGOS Keblinger?

May 7th, 2006, 2 Komentar

Setelah gagal dengan proyek “Warung IGOS” pemerintah bikin proyek baru “IGOS Desktop” namanya. Walaupun saya belum pernah “liat-liat” distro yang baru ini namun apakah masyarakat akan percaya dengan hasil yang mereka dapatkan dari distro ini, apalagi untuk mendapatkan distro ini kita harus membayar sampai Rp 449.000,- terlalu tendensius apalagi klo kita melihat distro sebelumnya yang terlihat asal kejar target, pemilihan “Fedora” yang walaupun bagus namun kurang mumpuni untuk digunakan di Warnet-Warnet yang menjadi alasan pembuatan distro ini karena membutuhkan spesifikasi komputer yang cukup tinggi. Kurang seriusnya pemerintah bukan hanya masalah penentuan distro ‘sumber’ saja, pembiayaan yang sempat dihentikan pun seakan-akan memperkuat alasan pemerintah untuk memajukan Open Source hanya sebagai lips service saja.

Sebenarnya pemerintah tidak harus memaksakan diri untuk ‘ikut-ikutan’ membuat distro Linux seperti yang dilakukan selama ini. Asal pemerintah mau memberikan support kepada pengembangan Open Source saja sudah cukup, wajibkan sekolah-sekolah untuk menggunakan Open Source seperti di beberapa negara atau lakukan razia pengguna bajakan secara serius, bukan kek sekarang yang terkesan cuma untuk menambah uang saku ‘oknum’ yang melakukan razia saja.

Walaupun alasan utama kenapa sistem operasi ini ‘bayar’ adalah adanya dukungan/support dari pihak IGOS namun hal ini tidak terlalu signifikan. Karena apabila distro ini mampu menjebatani user untuk bermigrasi secara tidak langsung akan meningkatkan komunitas pengguna sistem operasi IGOS, yang apabila difasilitasi akan secara sukarela pula saling bantu membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, sebagaimana kita lihat di banyak forum pengusung Open Source baik yang disediakan oleh penyedia distro maupun situs-situs komunitas seperti AWALI.org

Lagipula terlepas dari itu, seandainya pemerintah mau sedikit ‘membuka mata’, dengan banyaknya Linux yang gratis saja masih banyak end-user maupun perusahaan yang ‘ogah’ untuk bermigrasi ke sistem operasi yang ‘gratis’ ini. Apalagi klo harus berbayar dengan harga yang cukup mahal pula, harga yang cukup fantastis mencapai hampir dua pertiga dari sistem operasi Microsoft notabene menjadi pesaing utama sistem operasi ini.

Bagaimana bisa memasyarakatkan Open Source, apabila untuk mendapatkannya saja masyarakat harus menggali kocek jauh lebih mahal dibandingkan membeli CD bajakan yang hanya 15 – 20 ribu rupiah yang sampai saat ini banyak beredar di toko-toko CD dan tidak ada tanda-tanda ‘di razia’. Bagaimana cita-cita luhur untuk menghormati hak cipta dapat ‘tercipta’ apabila masyarakat tetap dihadapkan dengan sistem operasi yang harusnya menjadi ‘alternatif murah’ agar terlepas dari pelanggaran hak cipta malah ‘diperas’?

Langkah untuk menjadikan sistem operasi ini sebagai sistem operasi yang ‘bayar’ justru bisa dibilang memukul balik Open Source itu sendiri, dengan kebijakan baru yang orientasi bisnis ini makin menjauhkan calon ‘pengguna’ Linux yang harusnya diberi kemudahan dan di fasilitasi malah dibebani dengan harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Mungkin ada agenda tersendiri di balik pembebanan biaya ini, kita hanya bisa berharap agenda tersebut memiliki maksud positif……hanya bisa berharap.

Allahualam.

Disclaimer. Articles in this site is free under license described at the bottom page. I don't expected any donation, but I really appreciated if you do that, it's help me to maintain this site. Feel free to donate to BCA account 5770564877 or Mandiri 167-00-0025062-0 (Indonesian Bank).

Artikel lainnya...

Anjar Hardiena, motivator dan pengguna open source, mendapat penghargaan yang sekaligus juga menjadi kado ulang tahunnya dari pemerintah Indonesia ditandatangani Menkominfo M. Nuh dan diserahkan oleh Menristek Kusmayanto Kadiman, Mei 2008. Bekerja sebagai Linux Product Owner & Cloud Computing Consultant di Infinys System Indonesia, sebuah perusahaan pioneer untuk produk Cloud Computing di Indonesia. Selain itu penyuka wisata kuliner ini juga beraktivitas sebagai koordinator IGOS Center untuk wilayah Bekasi, Pembina Asosiasi Warnet Linux & Open Source Indonesia dan Pembina Komunitas Pengguna Linux Bekasi.

Kategori: Obrolan
Tag:

2 Komentar »

  1. yap, setuju banget mas
    pemerintah sebaeknya mendanai saja komunitas oss yang sudah eksis, misalnya blankOn

  2. Pemerintah setengah hati. Mungkin karena SDm pemerintah juga yang asal kejar target sehingga memilih distro juga asal-asalan. Mungkin ada baiknya Pak Hardiena mengajukan proposal kepada pemerintah agar Slackware modifikasi bapak, Zencafe, bisa dijadikan main project pemerintah untuk membantu legal law untuk warnet-warnet agar tidak lagi menggunakan software bajakan.

Beri Komentar

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Unless otherwise expressly stated, all original material of whatever nature created by A. Hardiena
and included in this weblog are licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 License.

website availability