Manuver Penjegalan Open Source: Pemerintah Indonesia pilih kasih?

March 3rd, 2010, 18 Komentar

Menarik melihat tindak tanduk penjegalan terhadap perkembangan Open Source di Indonesia belakangan ini, baik dari pengaduan IIPA (Microsoft anggota BSA, dimana BSA adalah salah satu asosiasi anggota IIPA) kepada pemerintah Amerika untuk mencabut skema subsidi bebas-pajak GSP; yang telah membantu memperlancar masuknya ekspor Indonesia bernilai trilyunan rupiah dengan alasan pemerintah Indonesia melakukan penolakan terhadap produk dari Amerika dengan tidak membeli produk proprietary padahal tujuan penggunaan Open Source adalah untuk menghemat anggaran negara yang notabene duit rakyat, perkara perusahaan open sourcenya lokal maupun Internasional termasuk Indonesia tidak pernah ada pelarangan soal itu  sampai dengan tuduhan Microsoft bahwa pemerintah Indonesia pilih kasih dengan memberikan dukungan terhadap Open Source (Contoh dukungan: mengeluarkan SE Menpan tentang Open Source)

Secara umum, pemerintah Indonesia berhak dan berdaulat untuk menentukan apa yang akan di pakai oleh instansinya tanpa campur tangan pihak asing apalagi cuma sekedar perusahaan software seperti Microsoft, apalagi klo tujuannya untuk kebaikan bersama seperti dengan menggunakan open source di jajaran pemerintahannya, toh dengan begitu anggaran yang seharusnya di keluarkan oleh pemerintah untuk membeli lisensi sistem operasi ataupun aplikasi perkantoran bisa di manfaatkan untuk memajukan Indonesia di sektor lain, lagipula aplikasi apa sih yang dipake oleh instansi-instansi pemerintah, ga lebih dari sekedar untuk ketik mengetik urusan administrasi saja, tidak lebih.

Kenapa harus bayar mahal? Ingat, itu duit rakyat lho, duit yang di bayarkan warga Indonesia melalui pajak dari berbagai pos. Lagipula Surat Edaran Menpan tersebut berlaku hanya untuk jajaran instansi pemerintah, sangat wajar pemerintah menentukan apa yang harus di beli oleh jajarannya. Tidak ada satu katapun didalam Surat Edaran Menpan yang memaksa pihak swasta untuk turut menggunakan open source.Pihak swasta justru lebih leluasa untuk memilih tentunya selama software yang digunakan adalah legal tentunya. Klo sampai pihak swasta juga ikut memanfaatkan open source, tidak lebih adalah kesadaran mereka untuk mendapatkan manfaat yang lebih baik.

Malahan klo kita lihat lebih jauh, apakah benar pemerintah Indonesia sudah bener-bener mendukung open source? Pertanyaan aneh. Sampai saat ini Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) dengan arogansinya belum mendukung open source sebagai salah satu kurikulum pendidikan di Indonesia, padahal dari sejak awal adanya pelajaran komputer di sekolah di Indonesia yang di ajarkan ga pernah jauh dari produk proprietary tertentu. Padahal ini sama saja dengan mengajarkan putra putri penerus bangsa untuk terus berada dibawah ketiak perusahaan kapitalis proprietary, secara mereka tidak diberikan pilihan lain. Untung-untung klo orang tuanya bisa modalin anaknya untuk beli software original, klo ga bisa? Sama aja artinya pemerintah secara tidak langsung mendorong warganya untuk jadi maling! Apakah ini bukan pilih kasih?

Belum lagi kerjasama yang dilakukan oleh perusahaan proprietary tertentu dengan beberapa Universitas negeri ternama di Indonesia, apakah ini bukan pilih kasih?

Klo ane bilang, ini tidak lebih dari manuver yang dilakukan oleh pihak-pihak proprietary yang merasa dirugikan untuk menekan perkembangan open source di Indonesia, tidak lebih dari ketakutan terhadap pergerakan open source yang mulai menunjukkan keberhasilannya. Apakah kita mesti takut dan gentar? Toh tidak ada yang salah dengan gerakan open source selama ini. Gerakan open source justru mendorong agar terciptanya kesadaran akan hak cipta bukan sebaliknya.

Untuk teman-teman pendukung dan penggerak open source di Indonesia, jangan terlalu berbangga hati dulu, disatu sisi hal ini adalah kabar baik sangat baik malah, namun disisi lain kita harus lebih waspada dengan kemungkinan manuver-manuver lainnya. Perjuangan masih panjang. So, maju terus open source. Ganyang habis ketidakadilan dan pembelengguan hak mendapatkan kebebasan untuk memilih software yang tepat bagi perkembangan bangsa Indonesia!

Disclaimer. Articles in this site is free under license described at the bottom page. I don't expected any donation, but I really appreciated if you do that, it's help me to maintain this site. Feel free to donate to BCA account 5770564877 or Mandiri 167-00-0025062-0 (Indonesian Bank).

Artikel lainnya...

Anjar Hardiena, motivator dan pengguna open source, mendapat penghargaan yang sekaligus juga menjadi kado ulang tahunnya dari pemerintah Indonesia ditandatangani Menkominfo M. Nuh dan diserahkan oleh Menristek Kusmayanto Kadiman, Mei 2008. Bekerja sebagai Linux Product Owner & Cloud Computing Consultant di Infinys System Indonesia, sebuah perusahaan pioneer untuk produk Cloud Computing di Indonesia. Selain itu penyuka wisata kuliner ini juga beraktivitas sebagai koordinator IGOS Center untuk wilayah Bekasi, Pembina Asosiasi Warnet Linux & Open Source Indonesia dan Pembina Komunitas Pengguna Linux Bekasi.

Kategori: Business, Linux
Tag: , , , , , ,

18 Komentar »

  1. akhirnya dapat pertamax… :mrgreen:

  2. oic.open source info at Indonesia


  3. adhicipta r. wirawan

    saya suka sekali dengan artikel ini pak ^^

  4. setuju banget. Dunia pendidikan memang sudah ada sejak dini. aku pun menyayangkan hal itu. karena baru mengenal yang namanya linux ketika sudah masuk tingkat SMK. Begitu juga unas kurikulum yang digunakan adalah mengenai software software bawaan windows

    emang bener sekolah tuh membekali siswanya, tapi yang disayangkan karena siswanya tidak mampu untuk membeli software software tersebut dan mereka hanya memiliki skill dari software tersebut sehingga mau nggak mau setelah lulus sekolah kebanyakan mereka mendirikan usaha dari software yang diajarkan di sekolah bedanya mereka kebanyakan membajak.

    Otomatis dengan membajak mereka akan mendapatkan rejeki yang haram sehingga tidak baik untuk diri sendiri :D .

  5. @ndup
    hmmm….caranya ya perlu ngeloby mentri pendidikan nasional. buat ngubah kurikulum mengenai TIK.

  6. kalau saya lihat . dikurikulum pembelajaan KKPI di SMK .. udah ada tuh tentang open source… kita aja yang belum banyak pakai …

  7. @adhicipta, makasih om,

    @ndundupan, betul sekali, walau misalnyapun sekolah mampu untuk beli priopertary namun tidak ada jaminan para siswa/orangtua siswa juga mampu untuk membeli tu software, sehingga pada akhirnya tetep aja ujung2nya klo mereka tidak mampu membeli mau ga mau membajak/mencuri. merinding ngebayanginnya, berapa banyak orang yang ane dorong untuk jadi pencuri seandainya ane berada di posisi guru yang memaksa siswa untuk pake produk priopertary.

    @bgun & anto, sbenernya sejak kurikulum 2005 setiap sekolah sudah boleh memilih untuk pake priopertary atau pake open source karena didalam kurikulum tersebut sudah tidak disebutkan lagi “wajib” windos, namun pada prakteknya masih sering ditemukan soal2 ujian yg berisikan materi tentang software Proprietary sehingga ujung2nya sama aja dengan “memaksa” siswa untuk belajar software Proprietary tersebut. mungkin harus tunggu pengajar2 kita & orang2 diknas bisa OSS semua dulu kli ya?

    Khusus untuk SMK terutama jurusan IT, mereka memang di tuntut untuk mengenal berbagai OS walaupun mungkin porsi untuk OSS masih relatif kecil dibanding porsi untuk Proprietary.

  8. @anto : nggak semua SMK menggunakan open source. sekolahkupun baru tahun ini pake yang open source. ketika kelas 1 dan 2 malah pake Ms. Office

    @Haridiena : Ujian Nasional yang aku ikuti barusan untuk teori kerjuruan sebagian besar cara penggunaan software proprietary. malah sempat saat try out ujian kejuruan. disuruh mengurutkan tata cara penginstallan swish. lucunya dalam urutan tersebut ada yang pengecrack an :D

  9. membuat warnet linux brarti anda sudah menyumbang uang untuk 1 komputernya seharga 1 juta,
    dari pada uang kita keluar negeri untuk beli os mahal, devisa kitapun jadi keluar negeri,
    memakai opensource brarti anda membantu negara dari krisis ekonomi,
    tapi sayang anggota dprnya aja beli laptop mahal buanget, lab komputer di sekolah masih OS mahal, pemerintah mendukung opensource apa nggak ya ??????

  10. salam kenal om .. dunia open source kembali dicekek seperti halnya bandwidth kejadian ini sangat memprihatinkan bagi Indonesia bisa jadi kemunduran dikarenakan $$$$$ … maju terus OPen source

  11. bosssss mohon ijin aq link tulisannya ke blog aq………

  12. lha pertanyaanya, siapa sih yang gak suka kipasan dollar? dan karena kipoasan itu, perselingkuhan penguasa dan pengusaha sudah terjalin dengan erat sejak lama, ya beginilah jadinya, saat penguasa ingin lepas dari perselingkuhan,walau setengah hati, pengusaha akan terus menjegal dengan usahanya

  13. maju terus,,,semakin tertekan semakin melawan….tak ada kata menyerah…bapak bangsa kita telah menanamkan nilai kejuangan…berjuang tanpa henti

  14. go opensource indonesia..!

  15. Kalau Bea Cukai sekarang utk pelayanan sudah 100% Ope Source mas, mereka prefer Open Solaris System. Sementara berdasarkan survei yang Ristek lakukan di 2009, baru 20 persen instansi pemerintah yang sudah migrasi ke Open Source.

    Saya ada pengalaman lucu mas, yang membuat saya berkesimpulan, pengenalan Open SOurce itu harus dimulai sejak anak SD. Saya pernah didatangi guru sekolah, orang itu udah tamatan S2 pula, mau mengetik di warnet, dia bingung cari-cari MS Word, saya kemudian menjelaskan saya pake OoO. Saya bukakan aplikasi writer, dia malah minta, harus Word katanya, biasanya dia pakai itu. Ya sudah, akhirnya dia tidak jadi mengetik di warnet saya.
    Keesokan harinya guru itu balik lagi ke warnet, dia ngomong hasil ketikannya di rentalan tidak bisa dibuka di rumah dia (formatnya word 2007, punya dia di rumah Word 2000), dan juga format laporan di sekolahan dia ternyata sudah berubah, diharuskan menggunakan format ODT. Dia bingung ODT itu apa. Akhirnya saya kasih penjelasan panjang lebar dan dia mengerti. Sejak saat itu dia kalau ngetik-ngetik sukanya di warnet saya. Ketahuan deh, itu guru gak mengikuti perkembangan open source yang ternyata di sekolah dia sendiri sudah digunakan :) .

  16. Kini aku lagi gerilya tentang open source di sekolahku yang baru saja meluluskan aku.dengan cara membimbing beberapa adik kelas untuk menggunakan open source dalam tugas tugas mereka. Dan alhamdulillah sudah ada 1 kelas yang berhasil. kelas desain grafis. mereka pada ketagihan sama inkscape, dan guru sudah mentolerir boleh ngerjain pake inkscape :D . penting hasil jadinya :D .

    Soalnya pendidikan tidak boleh menyebutkan salah satu vendor software. ini terbukti di rapot pelajar. tidak ada yang rapot yang menyebutkan softwarenya. biasanya cuma software pengolah kata, software menyunting audio video :p. kalau ada bukti tertulis yang mewajibkan memakai vendor tertentu laporkan aja ke depkominfo :) .

  17. Ikut Dukung Boss, Dari Jauh
    (eh ga ding, masih di Jawa koq)

  18. Nah tuh, bener tuh mas bro Kemdiknas melalui menterinya pak M. Nuh, saya lupa tanggal berapa waktu itu malah menandatangani kontrak kerjasama dengan penyedia Software berbayar (sopo maning kalo bukan si MS…). Pokoke genjot terus Open source Indonesia, semoga lancar, amin

Beri Komentar

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Unless otherwise expressly stated, all original material of whatever nature created by A. Hardiena
and included in this weblog are licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 License.

website availability