IGOS Summit 2: Next Step to Indonesia Goes Open Source!

May 13th, 2008, 5 Komentar

IGOS yang di deklarasikan oleh 5 (lima) lembaga pemerintah yaitu Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkumham), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) pada tahun 2004 lalu telah menggulirkan sedikit banyak dukungan pemerintah terhadap penggunaan produk Open Source di Indonesia. Walaupun belum sampai tingkat dukungan secara penuh namun disini kita perlu melihat bahwa sudah ada kemauan pemerintah untuk mendukung berkembangnya Open Source di negara yang kita cintai ini. IGOS Summit yang digelar pada 16-17 November 1996 menghasilkan keputusan untuk “Komitmen dan Kesepakatan bersama yang lebih luas di seluruh instansi pemerintah, lembaga lain serta komunitas untuk penggunaan software legal aplikasi berbasis OSS yang akan dituangkan dalam Grand Skenario OSS tahun 2010 – 2014”. Kegiatan IGOS Summit 2 yang merupakan kegiatan lanjutan dari IGOS Summit pertama akan diselenggarakan pada tanggal 27 – 28 Mei 2008 di JaCC (Belakang Grand Indonesia, HI) Jl. Kebon Kacang Raya, Waduk Melati, Tanah Abang Jakarta diharapkan dapat lebih meningkatkan semangat dan dukungan masyarakat terhadap kegiatan yang dilaksanakan pemerintah tersebut. Selasa 27 Mei 2008

Waktu Seminar & Workshop
09.00-10.00 Registrasi Peserta Seminar & Workshop
10.00-10.30 Pembukaan Acara IGOS Summit 2
10.30-10.45 Penyerahan Penghargaan Apresiasi IGOS
10.45-11.00 Penandatanganan Deklarasi IGOS 2
11.00-12.00 Press Conference
12.00-13.00 Istirahat, sholat dan makan siang
13.00-16.00 Talkshow “Free/Open Source Software Sebagai Solusi Dalam Mengatasi Penggunaan Software Ilegal”Pembicara:- Kombes Petrus R. Golose (Kepala Unit Cyber Crime – BARESKRIM POLRI)- Andy Noorsaman Sommeng (Dirjen HKI – Departemen Hukum dan HAM)- Anjar Hardiena (Pengusaha Warnet) – DPR * – Donny A. Sheyoputera (BSA) Moderator: Cahyana Ahmadjayadi (Dirjen Aplikasi Telematika – Depkominfo)

Rabu 28 Mei 2008

Waktu Seminar & Workshop
08.30-09.00 Registrasi Peserta Seminar & Workshop
09.00-10.00 Talkshow “Independensi dan Perlindungan Data Bagi Pemerintah dan Dunia Industri Menggunakan Open Document Format (ODF)”Pembicara:- Engkos Koswara (Kementerian Negara Riset dan Teknologi )- Armein Langi (ITB) – Ang Djok An (SUN Microsystems) Moderator: Romi Satrio Wahono
10.00-12.00 Talkshow: “Keuntungan Penggunaan Free/Open Source Software di Pemerintahan, Pendidikan dan Bisnis”Pembicara:- Bupati Jembrana *- Harry Sufehmi (Rimba Linux) – Bambang Nurcahyo Prastowo (UGM) – Perusahaan Swasta Pengguna OpenSource Moderator: Soegiharto Santoso
12.00-13.00 Istirahat, sholat dan makan siang
13.00-15.00 Workshop & Demo: “Next Generation Network (NGN)/VOIP dan ENUM berbasis Open Source”Pembicara: Onno W. Purbo
15.00-15.30 Pengumuman dan Pemberian Penghargaan Pemenang Kompetisi FOSS Tingkat SMP dan SMA
15.30-16.00 Penutupan IGOS Summit 2Oleh: Idwan Suhardi (Kementerian Negara Riset dan Teknologi)

I Support IGOS Summit 2 Catatan: Mudah-mudahan kegiatan-kegiatan seperti ini berkembang menjadi kesadaran nasional dan salah satu langkah untuk men-gol-kan penggunaan Open Source sebagai kurikulum pendidikan di Indonesia yang saat ini masih mengarah terhadap penggunaan produk tertentu. Amien. Anyway, untuk teman-teman yang tertarik menggunakan Open Source di warnetnya atau teman-teman yang baru akan membuka warnet jangan lupa kunjungi stand pameran AWALI (Asosiasi Warnet Linux & Open Source Indonesia) di acara tersebut.

Be Sociable, Share!
Kategori: Business, Linux, Obrolan, Tag: , , , ,
×

Anjar Hardiena, Pengguna Linux biasa yang kebetulan mendapat penghargaan skaligus jadi kado ultahnya dari Pemerintah RI ditandatangani Menkominfo M. Nuh dan diserahkan oleh Menristek Kusmayanto Kadiman, Mei 2008. Bergabung di Infinys System Indonesia sebagai Kepala Suku alias Chief Linux yang ngurusin semua produk cloud computing berbasis Linux, InfinysCloud & CloudKilat.com. Selain itu penyuka wisata kuliner ini juga beraktivitas sebagai koordinator IGOS Center untuk wilayah Bekasi, Pembina Asosiasi Warnet Linux & Open Source Indonesia dan Pembina Komunitas Pengguna Linux Bekasi.

5 Komentar »

  1. Pak Anjar… mohon disampaikan tentang pemberian tekanan kepada Departemen Keuangan RI yang sampai sekarang hanya mengembangkan aplikasi under foxpro dan visual basic. Celakanya aplikasi itu dipaksakan kepada seluruh instansi (baik swasta maupun pemerintah selain Depkeu) yang berhubungan atau mempunyai kebutuhan dengan Depkeu. Mungkin kata kunci ini bisa dijadikan start untuk menjadi bukti pemaksaan itu. Kata kunci tsb adalah…
    Aplikasi SPM (Surat Perintah Membayar), RKAKL, SAKPA, SAKPB, e-SPT, dan masih banyak lagi yang semuanya dipaksakan untuk dipakai bila mau berhubungan dengan Depkau baik di pusat maupun daerah. Tentu ini sangat menghambat perkembangan perjuangan kita untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap microsoft windows.

    salam,
    denic wibowo
    staf Departemen Keuangan RI

  2. Betul sekali mas denic, saat ini sebagian besar instansi masih menggunakan aplikasi yang tidak linux friendly termasuk di Departemen Keuangan, dan sebagian besar aplikasi tersebut adalah aplikasi tailor-made yang dibuat oleh programmer-programmer yang mayoritas adalah programmer yang sejak awal di besarkan oleh “windows”.

    Alangkah baiknya aplikasi-aplikasi yang sekarang ini digunakan secara perlahan di ubah menjadi aplikasi yang mendukung multiplatform seperti java. Atau minimal membuat aplikasi dengan menggunakan software yang bisa lintas platform seperti Lazarus yang apabila dibutuhkan dapat dengan mudah untuk di konversi ke sistem operasi lain seperti Linux.

    Mudah-mudahan programmer-programmer mitra pemerintah ini menyadari kesalahannya dan mau sedikit bersusah payah untuk kemajuan bangsa ini. Selain itu bukankah pada saat perusahaan/instansi memulai suatu proyek ada standar tertentu yang harus di jalankan oleh mitra (vendor) nya dan multiplatform ini adalah satu hal yang perlu ditekankan pada saat merencanakan pembuatan aplikasi sebagai salah satu pandangan kedepan agar tidak terjadi pemborosan proyek? Ataukah para pengambil keputusannya yang tidak mengerti tentang aplikasi yang akan dibuat dan hanya mengikuti apa kata mitra (vendor) ? Apa kata dunia? kekeke . . .

  3. betul mas anjar, di DJP ajah sistem pelaporan elektronik (eSPT) yg notabene dibangun dr VB yg berback-end Access, bener2 tidak netral.
    Padahal output-nya bisa distandarkan format XML, bukannya pakai CSV seperti selama ini.
    Kapan ya ada pelatihan openSource Programming ?

  4. Mudah2an aja pada bangun wong sudah siang begini masih saja molor :)

  5. Kenapa Tidak menggunakan Python atau lazarus atau gambas yang bisa kita manfaatkan untuk pembangunan application under linux … tinggal keterbiasaan aja kok.untuk mengoprasionalkan program tersebut… mau gampang lagi udah kesiniin source codenya biar saya conver ke bahasa itu :)

Beri Komentar

Nama

Alamat Email

Alamat Website

Komentar